Tanggapan Orang - Madura Terhadap Perang Sampit

Karena pada akhirnya, baik Dayak maupun Madura sama-sama merasakan getirnya konflik, dan sama-sama merindukan kedamaian yang dulu sempat bersemi di tanah Kalimantan.

"Kami diusir dengan kekerasan. Rumah, toko, dan kebun karet kami tinggalkan. Pemerintah bilang akan memulihkan, tapi sampai sekarang banyak yang belum mendapat kompensasi. Tanggapan kami pahit: kami kehilangan masa depan hanya karena perbedaan budaya," keluh Hasan Ali, seorang mantan perantau asal Bangkalan yang kini tinggal di pengungsian Pasuruan. Bagi orang Madura yang memilih kembali ke Kalimantan setelah konflik mereda (terutama di Palangka Raya dan sekitarnya), tanggapannya lebih realistis namun penuh luka. Mereka mengakui bahwa sebelum 2001, hubungan dagang dan sosial antara Madura dan Dayak sebenarnya cukup baik. Konflik, menurut mereka, dipicu oleh provokasi elite politik lokal pasca-Reformasi dan kasus kriminalitas yang dilebih-lebihkan. tanggapan orang madura terhadap perang sampit

Lebih dari sekadar identitas etnis, orang Madura merespon Perang Sampit sebagai persoalan kegagalan negara dalam menjamin keselamatan warganya. Kini, setelah 20 tahun lebih, harapan mereka sederhana: diakui sebagai korban yang setara, bukan sebagai biang masalah, serta dihidupkannya kembali program rekonsiliasi budaya yang nyata, bukan sekadar seremoni. Karena pada akhirnya, baik Dayak maupun Madura sama-sama